Definisi Warisan, Dasar Hukum Waris Islam | Ayoksinau.com

Posted on

Definisi Warisan – warisan berasal dari bahasa arab Al- miirats yang dapat di artikan berpindahnya sesuatu kepada oranglain (dari kaum ke kaum lainnya).

Warisan adalah harta baik materi atau material yang di dipindahkan sebagai kepemilikan diberikan kepada ahli waris dari pewaris yang sudah meninggal.

Ahli Waris Orang yang berhak menerima warisan atau peninggalan orang yang meninggal Hubungan keluarga, pernikahan, atau memerdekakan hamba sahaya
Harta Warisan Bisa disebut dengan fara’id yang artinya (peninggalan) adalah sesuatu yang ditinggalkan oleh orang yang sudah meningal. Bisa berupa uang, benda, atau material yang dibenarkan oleh syariat islam.
Pewaris Orang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta semasa hidupnya. Dengan syurat wasiat, perkataan, atau pembagian menurut Al-quran.

Adapun yang berhak menjadi ahli waris atau menerima warisan dari pewaris menurut Al-Qur’an yaitu:

  1. Adanya hubungan darah, ada di surah QS. An-Nisa: 7, 11, 12, 33, dan 176.
  2. Hubungan pernikahan.
  3. Hubungan persaudaraan, ada di surah )QS. Al-Ahzab:6) didalamnya ditentukan oleh AL- Qur’an tidak lebih dari sepertiga harta pewaris.
  4. Hubungan kerabat walaupun tidak ada hubungan darah tetapi pernah berhijrah bersama, da di surah (QS. Al-Anfal: 75).
Definisi Warisan, Dasar Hukum Waris Islam Ayoksinau.com

Dasar Hukum Waris Islam

Adapun dasar hukum warisan dalam islam yang tentunya ada di Al-Quran dan ayat ayatnya yaitu:

  1. Surat An-Nisa’ ayat 7, yang artinya :

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan  ibu bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.”  (Joko Utama, Muhammad Faridh, Mashadi, Al-Qur’an Al Karim dan Terjemahnya, CV. Putra Toha Semarang, Semarang, hal.62. )

  1. Surat An-nisa’ ayat 8, yang artinya :

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (Ibid. )

  1. Surat An-Nisa’ ayat 11, yang artinya :

“Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) hutangnya. (Tentang) orangtuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetpan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Ibid.)

  1. Surat An-Nisa’ ayat 12, yang artinya

“Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah  dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah, dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja), atau saudara perempuan (seibu saja), maka bagian masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Ibid.)

Baca Juga:

Pengertian Haji, Hukum, Syarat wajib, Rukun, Larangan | Ayoksinau.com

Bacaan Doa Iftitah Beserta Artinya, Yang Benar dan Shahih

  1. Surat An-Nisa’ ayat 33

“Dan untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan para ahli waris atas apa yang telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Dan orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sungguh, Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Ibid., hal.66.)

  1. Surat An-Nisa’ ayat 176, yang artinya :

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah : “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu) : Jika seseorang meningal dunia dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkanya dan saudara-saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Ibid., hal.84.)

  1. Surat Al-Baqarah ayat 180, yang artinya :

“Diwajibkan atas kamu apabila sesorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabatnya secara makruf (ini adalah) kewajiban atas orang-orang bertakwa.” (Ibid., hal.21. )

  1. Surat Al-Baqarah ayat 240, yang artinya :

“Dan  orang-orang  yang  akan meninggal  dunia di  antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk ister-isterinya (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka membuat yang makruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ibid., hal 31.)

  1. Surat Al-Azhab ayat 4, yang artinya :

“Allah sekali-sekali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan isteri-isteri yang kamu zhihar itu sebagai ibu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).(Ibid., hal334)

Alhamdulilah, banyak sekali mamfaat artikel kali ini, semoga dapat bermanfaat juga untuk pembacanya. Kunjungi terus Ayoksinau.com banyak sekali artikel-artikel manarik didalamnya. Terima kasih.

Baca Juga:

Pemahan Serta Makna Dari Macam-Macam Sujud Di Dalam Ilmu Fiqh | Ayoksinau.com

Pengertian Aqiqah Dan Qurban Dalam Islam | Ayoksinau.com