Relevansi Antara Ilmu Pengetahuan Dan Agama Islam

Posted on

Ilmu Pengetahuan Dan Agama Islam

Ilmu diartikan sebagi fakta fakta yang diperoleh memalui metode empiris yang bersifat keilmuan. Maka dari itu, pengungkapan tidak hanya diperoleh dari observasi dan percobaan yang berlandasakn teori dan hipotesis saja.

Sebagai ilmu tidak bisa diyakini untuk masa depan, ilmu tidak membuat sesuatu prediksi atau perkiraan. Keraguan merupakan dasar yang dipakai sebagai penelitian ilmiah. Jadi nabi Muhammad yang didik oleh yang maha tau, membuat prediksi yang mutlak banyak sudah kita lihat kebenaran nya; yang lainnya tinggal menunggu waktu kedatangannya banyak sekali kalimat-kalimat Al-Quran yang menunjukan temuan dan perolehan fakta-fakta ilmiah. Seperti yang telah disebutkan diawal tadi, Al-Quran menyebutkan banyak hal-hal penting tentang penciptaan dan fenomena alam yang bahkan bagi orang yang pandai sekalipun yang hidup 14 abad yang lalu tidak akan tahu/paham. Sehingga, dengan menggunakan keajaiban nabi mengarahkan pada jangkauan keilmuan yang jauh, yang benar-benar berasal dari ilmu yang maha tahu di dunia.

quran

Sebelum menjelaskan masalah yang sangat penting ini kita harus menggaris bawahi bahwa untuk mendapatkan manfaat dari Al-Quran yang melampaui waktu dan tempat melebihi batas intelektual pembaca, kita harus mempersiapkan diri kita terlebih dahulu dan melakukan yang terbaik bagi diri kita sebagai implementasi prinsip-prinsip dalam kehidpa kita sehari-hari. Kita harus menahan diri dari dosa sebisa mungkin. Seperti yang dinyatakan dalam Al-Quran kita akan mendapatkan/memperoleh dari apa yang telah kita usahakan (53:39), Kita seharusanya, seperti penggali lautan yang dalam, menyelam masukke dalam samudra dan tanpa merasakan bosan dan lelah, terus belajar sampai kita mati.

Al-Quran berisis tentang berbagai hal, tapi tidak sama dalam tingkatannya. Al-Quran membagi dalam 4 Tujuan : untuk membuktikan keberadaan tuhan, kenabian, kebangkitan semua manusia, doa dan hukum tuhan.

Tugas utama Al-Quran adalah mengajarkan kesempurnaan tuhan, kualitas-kualitas penting dan tindakan, sepertihalnya tugas kita, status dan bagaimana melayani tuhan. Jadi, Al-Quranberisikan biji atau inti, ringkasan, prinsip-prinsip atau tanda secara eksplisit ataupun implisit, tanda yang bersifat arahan atau samara tau bersifat nasihat. Masing-masing peristiwa mempunyai bentuknya sendiri, dan disajikan bentuk/cara yang terbaik untuk menentukan tujuan Al-Quran sesuai dengan peraturan dan konteks yang ada contohnya :

Kemajuan manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan industri telah menghasilkan suatu keilmuan dan teknologi yang luar biasa, pesawat, listrik, trasportasi motor, dan radio dan telekomunikasi, yang semua itu menjadi kebutuhan pentng dan mendasar bagi kehidupan modern, dan peradaban yang materialistis.

Al-Quran tidak menghiraukan semua itu dan menggaris bawahi masalah tersebut dalam dua cara yaitu : pertama, seperti yang sdah dijelaskan melalui mukjizat nabi.

kedua, mengacu pada kejadian sejarah tertentu dalam katqalain, keajaiban dari peradaban manusia haya berasal dari kebaikan yang dilaluinya, refresnsi yang implisit atau nasihat dalam Al-Quran.

Akhirnya, jika Al-Quran berisikan refrensi Eksplisit atas semua hal yang kita ingin tahu maka akan besar dan butuh firman yang lengkap dan itu sepertinya tidak mungkin. Kita tidak akan bisa mengambil manfaat dari pencerahan spiritual, dan akan menadi kebosanan ketika akan mengatakan itu. Hal-hal semacam itu sangat bertentangan sekali dengan kewahyuan al-Al-Quran dan tujuannya.

Ditulis oleh : Ayoksinau.com

Baca Juga : Konsep Ilmu Dan Teknologi Menurut Pandangan Agama Islam