Produksi Dalam Islam, Pengertian Produksi, Faktor-Faktor Produksi, Prinsip-Prinsip Produksi Dalam Ekonomi Islam, dan Efisiensi Produksi (Lengkap)

Posted on

Produksi Dalam Pandangan Islam

Prinsip dasar ekonomi islam yaitu keyakinan kepada Allah SWT sebagai Rabb dalam alam semesta. Ikrar akan keyakinan ini menjadi pembuka kitab suci umat islam, firman Allah dalam QS. Al- Jaatsiyah ayat 13 yang artinya: “Dan dia menundukan untuk mu apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi semuannya, (sebagai rahmat dan pada-Nya sesugguhnnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir’’.

Allah telah menetapkan bahwa manusia berperan sebagai khalifah, bumi merupakan lapangan dan medan, sedangkan manusia sebagai pengelola segala apa yang terhampar di muka bumi untuk di maksimalkan fungsi dan kegunaannya. Tanggung jawab manusia sebagai khalifah yaitu sebagai pengelola (resources) yang telah diberikan oleh Maha Pencipta secara efisien dan juga optimal agar kesejahteraan dan keadilan ditegakkan.

Islam juga mengajarkan bahwa sebaik-baiknya orang adalah orang yang banyak manfaatnya untuk orang lain atau masyarakat. Fungsi beribadah dalam arti luas ini tidak mungkin dilakukan jika seseorang tidak bekerja atau berusaha. Dengan demikian, bekerja dan berusaha itu menempati posisi dan peranan yang sangat penting dalam Islam.

Dalam Islam, memproduksi sesuatu bukanlah sekedar untuk mengkonsumsi sendiri atau dijual ke pasar. Dua motivasi itu tidak cukup, sebab masih terbatas pada fungsi ekonomi. Islam secara khas menekankan bahwa setiap kegiatan produksi harus pula mewujudkan fungsi sosial. Hal ini tercermin dalam QS. Al-hadiid (57): 7 yang artinya: “Percayalah kamu sekalian kepada Allah beserta para rasul-Nya dan juga nafkahkanlah sebagian dari kekayaanmu yang Allah Telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari kekayaannya memperoleh pahala yang besar.” QS: Al-hadiid (57): 7.

Sebagai modal dasar berproduksi, Allah telah menyediakan bumi beserta isinya bagi manusia, agar diolah untuk kemaslahatan bersama seluruh umat. Hal itu terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 22: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menjatuhkan air (hujan) dari langit, kemudian dia memperoleh dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, sedangkan kamu Mengetahuinya”. (QS: Al-Baqarah: 22).

Aturan-aturan produksi dalam islam diantaranya sebagai berikut ini:

  1. Memproduksi barang dan jasa yang halal pada setiap tahapan produksi.
  2. Mencegah kerusakan dimuka bumi, termasuk mengatasi polusi, memelihara keserasian, dan ketersediaan sumber daya alam.
  3. Produksi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat serta mencapai kesejahteraan. Kebutuhan yang wajib dipenuhi dalam prioritas yang ditetapkan agama, adalah terkait dengan kebutuhan untuk tegaknya akidah/agama, terpeliharanya nyawa, akal dan keturunan/kehormatan, dan untuk kemakmuran material.
  4. Produkksi menurut Islam tidak dapat dipisahkan dari tujuan kemandirian umat. Untuk itu hendaknya umat memiliki berbagai keahlian, kemampuan dan fasilitas yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan sprituak dan material.
  5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik kualitas spiritual maupun mental dan fisik.

Pengertian Produksi

            Produksi merupakan menambah kegunaan (nilai guna) suatu barang. Kegunaan suatu barang akan bertambah bila memberikan manfaat baru atau lebih dari bentuk semula. Dalam pengertian lain, produksi merupakan sebuah proses yang terlahir di muka buni ini semenjak manusia menghuni planet ini. Produksi adalah prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia di muka bumi. Ada juga yang berpendapat bahwa produksi yaitu kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen.

Menurut Siddiqi Produksi yang Islami (1992) yaitu penyediaan barang dan jasa dengan memperhatikan nilai-nilai keadilan dan kebijakan serta manfaat (mashlahah) bagi masyarakat. Dalam pandangannya, sepanjang produsen telah bertindak adil serta membawa kebijakan bagi masyarakat maka ia telah bertindak Islami. Produksi juga mata rantai konsumsi, dengan cara menyediakan barang dan jasa yang merupakan kebutuhan konsumen. Produsen, sebagai mana konsumen, bertujuan untuk memperoleh maslahah maksimum melalui aktifitasnya. Oleh karena itu, produsen dalam persepektif islam bukanlah seorang pemburu laba maksimal melainkan pemburu maslahah. Ekpresi maslahah dalam kegiatan produksi yaitu keuntungan dan berkah sehingga produsen akan menenukan kombinasi antara bekah dan keuntungn yang memberikan maslahah.

Oleh karena itu, tujuan produsen tidak hanya laba, tetapi pertimbangan produsen juga bukan semata pada hal yang bersifat sumber daya yang memiliki hubungan teknis denga output, namun juga pertimbangan kandungan berkah (nin teknis) yang ada pada sumber daya maupun output. Misalnya untuk menghasilkan baju diperlukan kain, benang, tenaga kerja, dan mesin jahit, produsen tidak hanya memikirkan beberapa meter kain dan benang yang diperlukan agar labanya maksimal, namun juga memprtimbangkan jenis kain dan benang apa dan dibeli dengan harga berapa, berapa tenaga kerja yang diperlukan, berapa baju yang akan dibuat agar maslahah mencapai maksimal.

Faktor-Faktor Produksi

      Dalam pandangan Baqir Sadr (1979), ilmu ekonomi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1. Filosofi ekonomi; 2. Ilmu ekonomi. Perbedaan antara ekonomi Islam dan ekonomi konvensional terletak pada filosofi ekonominya, bukan pada ilmu ekonominya. Filosofi ekonomi memberikan ruh pemikiran berdasarkan nilai-nilai Islam dan batasan-batasan syariah, sedangkan ilmu ekonomi berisi alat-alat analisis ekonomi yang dapat digunakan. Dengan kerangka pemikiran ini, faktor produksi dalam ekonomi Islam sama dengan faktor produksi dalam ekonomi konvensional, yang secara umum dapat dinyatakan dalam:

  1. Faktor produksi tenaga kerja
  2. Faktor produksi bahan baku dan bahan penolong
  3. Faktor produksi modal

    Di antara ketiga faktor produksi tersebut, faktor produksi modal yang memerlukan perhatian khusus karena dalam ekonomi konvensional diberlakukan sistem bunga. Pengaruh bunga terhadap modal ternyata memberikan dampak yang melebar bagi tingkat efisiensi produksi. Untuk menggambarkan keadaan ini, digunakan alat bantu grafis yang pada sumbu X menunjukkan jumlah produksi atau jumlah output yang dilambangkan dengan Q (quantity), dan pada sumbu Y menunjukkan biaya penerimaan dalam satuan rupiah. Komponen biaya yaitu biaya tetap (fixed cost, FC) serta biaya keseluruhan (total cost, TC), sementara komponen penerimaan adalah penerimaan keseluruhan (total revenue, TR).

Prinsip-Prinsip Produksi Dalam Ekonomi Islam

     Menurut Yusuf Qardawi, faktor produksi yang utama menurut AlQuran adalah alam dan kerja manusia. Produksi adalah perpaduan harmonis antara alam dan manusia. Firman Allah swt. dalam QS. Huud ayat 61 yang artinya: ‘’Allah swt. telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) serta menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohon lah ampunannya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesugguhnya tuhan ku amat dekat(rahmat-Nya) lagi memperkenalkan(doa hamba-Nya)”

Manusia sebagai faktor produksi dalam pandangan islam, harus dilihat dari konteks fungsi manusia secara umum sebagai khalifah Allah di muka bumi. Sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, manusia memiliki unsur rohani dan unsur materi, yang keduanya saling melengkapi. Karna unsur rohani tidak dapat dipisahkan dalam mengkaji proses produksi. Bagaimana manusia memandang faktor-faktor produksi yang lain menurut cara pandang Al Quran dan hadis. Al-quran dan hadis Rasulullah meberikan arahan mengenai prinsip-prinip produksi sebagai berikut:

  1. Tugas manusia dimuka bumi sebagai khalifah Allah serta memakmurkan bumi dengan ilmu dan amalnya,
  2. Islam selalu memotivasi untuk kemajuan dibidang produksi,
  3. Teknik produksi diserahkan kepada keinginan dan kemmpun manusia, dan
  4. Dalam berinovasi dan beresperimen, pada prinsipnya agama islam menyukai kemudahan, menghindari mudarat dan memaksimalkan manfaat.

            Adapun kaidah-kaidah berproduksi dalam islam diantaranya adalah:

  1. Memproduksi barang dan jasa yang halal pada setiap proses produksi,
  2. Mencegah kerusakan dimuka dibumi, termasuk membatasi polusi, memelihara keserasian dan ketersediaan sumber daya alam,
  3. Produksi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyrakat serta mencapai kesejahteraan,
  4. Produksi dalam islam tidak dapat terpisahkan dari tujuan kemandirian umat, serta
  5. Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia baik kualitas spiritual maupun mental dan fisik.

Efisiensi Produksi

    Dalam kriteria ekonomi, suatu sistem produksi dikatakan lebih efisien jika memenuhi salah satu dari kriteria dibawah ini:

  1. Minimalisasi pengeluaran untuk memproduksi jumlah yang sama,

         Untuk melihat ini, kita gunakan kurva total cost yang membandingkan antara total cost sistem bunga dengan cost sistem bagi hasil. Sebagaimana telah dijelaskan terdahulu, total cost sistem bunga akan lebih tinggi daripada total cost sistem bagi hasil. Misalnya ambillah titik mana saja pada sumbu X sebaai titik yang menggambarkan tingkat produksi yang sama (Q yang sama). Kemudian tariklah garis vertikal sampai memotong TC dan Tci. Untuk masing-masing perpotongan antara vertikal dengan Tci dan TCrs/ps, tariklah garis horizontal ke sumbu Y. ternyata untuk tingkat produksi yang sama (Q yang sama), total biaya bagi hasil TCrs/ps selalu lebih kecil dibandingkan total biaya dengan sistim bunga (TCi). Jadi menurut kriteria ini, produksi dengan sistem bagi hasil lebih efisien dibanding sistem bunga.

  1. Maksimalisasi Produksi tanpa Kenaikan atau Perubahan Biaya

         Kita gunkan kurva total cost yang membandingkan antara total cost sistem bunga dan total cost sistem bagi hasil. Misalnya ambilah titik mana saja pada sumbu Y sebagai titik yang melukiskan total biaya yang sama (TC yang sama), tentunya ambil titik yang diatas garis Fci. Kemudian tariklah garis horizontal sampai memotong TC dan TCi. Untuk masing-masing bersinggungan antara garis horizontal dengan TC dan TCi, tariklah garis vertikal ke bawah sumbu X. ternyata untuk total cost yang sama (TC yang sama), jumlah produksi sistem bagi hasil (Q). jadi menurut kriteria ini, produksi dengan sistem bagi hasil lebih efisien dibanding sistem bunga.

Demikianlah artikel tentang Produksi Dalam Islam, Pengertian Produksi, Faktor-Faktor Produksi, Prinsip-Prinsip Produksi Dalam Ekonomi Islam, dan Efisiensi Produksi (Lengkap) dari Ayoksinau.com

Baca juga: